Monday, April 4, 2016

Adakah Niat Jahat Cak Fasich

Masyarakat perguruan tinggi agak terguncang setelah Rabu (30 Maret 2016) sore, tiga hari yang lalu, tiba-tiba ada berita mengagetkan. Prof Dr Fasichul Lisan alias Cak Fasich, mantan rektor Universitas Airlangga (Unair), ditetapkan sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi oleh KPK. 

Masyarakat kaget karena selama ini Cak Fasich dikenal sebagai figur yang bersih. Dalam keseharian Cak Fasich selalu hidup sederhana. Kekayaannya juga biasa saja seperti dosen pada umumnya yang tidak punya kegiatan bisnis. Dengan melihat jalan hidupnya yang sederhana, perilakunya yang tulus, dan ketaatan beragamanya yang tertib memang sulit untuk percaya bahwa Cak Fasich melakukan korupsi atau mempunyai niat jahat untuk melakukan korupsi. 

Itulah sebabnya pimpinan Unair, mewakili warga sivitas akademikaUnair, mengeluarkan pernyataan terbuka bahwa pihaknya merasa sedih atas penetapan Cak Fasich sebagai tersangka karena selama ini Cak Fasich telah bekerja dengan baik, lurus, dan penuh prestasi sehingga Unair menduduki posisi prestisius seperti sekarang. 

Meski begitu, Unair menyatakan menghormati proses hukum dan akan ikut membantu Cak Fasic huntuk memperoleh keadilan. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Dien Syamsudin menyatakan akan tampil membela Cak Fasich, minimal memberi dukungan moril, karena dirinya meyakini dari dulu bahwa Cak Fasich tidak terlibat dalam penyelewengan dana RS Unair. 

Pernyataan Dien mendapat sambutan meluas di media sosial. Mereka yang mengenal Cak Fasich percaya bahwa Cak Fasich tak mungkin mempunyai niat jahat melakukan korupsi. Saya pun mengenal Cak Fasich dalam waktu yang lama, sejak Cak Fasich masih menjadi dosen muda. Dalam pengenalan yang sangat lama, saya pun meyakini Cak Fasich tidak mungkin mempunyai niat jahat atau kesengajaan untuk melakukan korupsi. 

Ada prinsip geen straf zonder schuld, ”tidak ada tindak pidana kalau tidak ada kesalahan”. Ada pun kesalahan terdiri atas dua unsur yakni actus reus atau perbuatan lahiriah tindak pidana danmens rea atau sikap batin yakni kemampuan bertanggung jawab, termasuk niat jahat. 

Tetapi, KPK tentu mempunyai alasannya sendiri, yaitu adanya, minimal, dua alat bukti sehingga menetapkan Cak Fasich sebagai tersangka. Masalah niat jahat atau mens rea biasanya dibuktikan di pengadilan. Yang penting adalah dua alat buktinya dulu. Terkecuali sangat nyata bahwa pelaku tidak bisa dibebani tanggung jawab (misalnya karena gila), jika sudah ada dua alat bukti, seseorang bisa dijadikan tersangka. 

Soal mens rea atau niat jahatnya biasanya dibuktikan di pengadilan. Seseorang yang secara lahiriah melakukan tindak pidana (actus reus) haruslah dibebaskan dari hukuman kalau tidak ada niatjahat (mensrea) . Tetapi, didalam praktik niat jahat selalu dikaitkan dengan pembuktian yang berujung pada keyakinan hakim. 

Seseorang itu dinyatakan bersalah atau tidak bersalah adalah bergantung pada keyakinan hakim setelah melakukan pemeriksaan di persidangan. Banyak orang yang dalam pandangan umum tidak bersalah dan pengadilan tidak menemukan bukti bahwa yang bersangkutan ikut menikmati korupsi, tetapi tetap dihukum. 

Menpora Andi Mallarangeng dan Mensos Bachtiar Chamsah tetap dijatuhi hukuman pidana meskitidakadabuktimenikmati korupsi yang terjadi di kementeriannya. Begitu juga yang terjadi pada Menkes Sujudi dan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah yang tampaknya hanya melakukan prosedur administratif. 

Mens rea pada para pejabat tinggi itu, tampaknya, dinyatakan ada karena mereka lalai sehingga terjadi korupsi oleh orang lainditempat yangdibawahtanggung jawabnya sebagai pejabat negara. Bahkan, ada putusan Mahkamah Agung (MA) yang menghukum orang karena tindakpidanakorupsi, padahaljelasjelas MA sendiri menyatakan yang bersangkutan tidak mempunyai niat jahat untuk korupsi. 

Dalam putusan No 2008/K/ Pid.Sus/2012 drg. Cholil M.Kes dijatuhi hukuman penjara karena melakukan pengadaan obat-obatan yang nilainya di atas Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah) tanpa tender. Padahal, dalam pertimbangannya, MA sendiri menegaskan bahwa ”tidak ada niat jahat pada diri drg Cholil karena yang dilakukannya adalah mengisi stok obat-obatan di rumah sakit yang waktu itu harus segera diisi” dan, menurut pertimbangan MA juga, ”yang dilakukan oleh drg Cholil itu bermanfaat terhadap para pasien”. 

Meski dalam pertimbangan MA jelas-jelas menyebut drg Cholil tidak punya niat jahat dan tindakannya malah bermanfaat kepada pasien, drg Cholil tetap dijatuhi hukuman pidana penjara selama satu tahun. Kasus Andi Mallarangeng, Bachtiar Chamsah, dan drg Cholil merupakan contoh tentang orang yang tidak mengambil keuntungan dari korupsi dan, mungkin, tidak mempunyai niat jahat, namun tetap dihukum oleh pengadilan. 

Di luar itu lebih banyak contoh, kalau tidak ada niat jahat, orang tidak dihukum. Mudahmudahan Cak Fasich mendapat keadilan melalui peluang yang terbuka. Kekuatan sekaligus kelemahan Cak Fasich adalah sikapnya yang selalu menganggap orang lain adalah sebaik dirinya. ”Ikhtiar, sabar, dan tawakallah, Cak”. Akhirnya, secara hukum, pengadilanlah yang akan mempertimbangkan dan memutus tentang ada atau tidak niat jahat dan segala akibatnya.

MOH MAHFUD MD 
Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan 
Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN): 
Ketua MK-RI 2008-2013 
Sumber : Opini Koran Sindo

Tuesday, December 8, 2015

Doa-Doa Indah Dalam Al Quran

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. 40:60)

*****

1. Doa Memohon Kemakmuran


رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدَا ءَامِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَر


"Ya Tuhan-ku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian".

2. Doa Ketundukan


رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ 
أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ 


Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak-cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang".

3. Doa Memohon Kebaikan Dunia Akhirat


رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".

4. Doa Memohon Kesabaran


رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ 


"Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir".

Sunday, November 22, 2015

Sebagus-bagusnya Wadah, Lebih Penting Isinya

Membaca judul di atas, mungkin sedulur-sedulurku semua bertanya-tanya, jane iki opo sih Rek?, saya ini hanya mau menyampaikan apa yang pernah saya dengar soal wadah dan isi. Intinya, wadah dan isi itu memang sama-sama penting, satu sama lain saling terkait.

Jika isinya bagus tapi wadahnya tidak bagus, nilai jualnya juga kurang. Namun lebih parah lagi, jika wadahnya bagus tapi isinya jelek. Ini bisa mengakibatkan orang lain tertipu dan rugi. Nah, pembahasan saya kali ini soal jasad atau fisik kita sebagai wadah dan ruh kita sebagai isinya.

Ingat, semahal-mahalnya wadah, isi tetap menjadi hal yang penting. Isi jika sudah baik maka bakal mempengaruhi wadah. Sehingga orang otomatis akan menyebut isinya daripada wadahnya. Misal, sebuah kotak diisi nasi padang, kalau ditanya teman kita, "Apa itu?" kita tidak menjawab, "Kotak kardus isi nasi padang."


Thursday, November 19, 2015

Saat Pedagang Pengen Ganti Ungkapan Mengenai Kacang Goreng

Kisah yang akan saya ceritakan ini meski kelihatan sepele. Namun sangat dalam artinya bagi saya, mungkin bagi anda juga setelah membacanya. Ini soal pertemuan saya dengan seorang pedagang kacang goreng yang saya temui tadi pagi saat ngopi di sebuah warung pinggir jalan.

Warung pangkalan truk ini memang ramai di sore hingga malam hari. Namun tidak di pagi hari. Sekitar pukul 8 pagi, saya pesan kopi dan menikmati beberapa potong tahu bacem. Sebelum di bangku kayu sebelah saya datang seorang bapak-bapak pedagang asongan yang mengaku bernama Pujianto. Perkiraan saya, usianya 40 tahunan.

ilustrasi: anekacamilankeluarga.blogspot.com

Tas asongan yang terbuat dari jalinan kawat itu berisi kacang goreng yang direntengi di plastik-plastik panjang. Harganya Rp 2000,- per plastik. Saya tahu sebab sesaat sebelum duduk Kang Puji sempat menawarkan ke beberapa orang di sekitar warung. Selain kacang goreng, ada beberapa kerupuk, tapi yang dominan memang kacang goreng.

Wednesday, November 18, 2015

Menunggu Babak Akhir Sinetron Freeport

Saya memakai istilah itu menirukan Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli saat ditanya wartawan soal Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said yang melaporkan seorang anggota DPR ke Majelis Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat (MKD). Anggota dewan yang diduga menjanjikan kelancaran proses perpanjangan operasi PT Freeport Indonesia dengan imbalan saham belakangan diakui oleh Sudirman Said tidak lain Ketua DPR RI Setya Novanto. 



Sebenarnya, ontran-ontran ini sudah dimulai sejak Rizal Ramli menilai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said keblinger karena tidak mengikuti aturan pemerintah terkait dengan perpanjangan kontrak dengan PT Freeport Indonesia. Kritik pedas itu pun dijawab oleh Sudirman Said.
Chimpanzee Smiling
@kandilsasmita. Powered by Blogger.